Selamat datang dalam rasa dan pikiran

Jangan pernah membuang satu pun rasa atau pikiran yang ada!

Tuesday, July 6, 2010

Aisyah itu Sosok yang Berpesta Nyawa

Aisyah itu Sosok yang Berpesta Nyawa

“Aisyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh, bangun sudah pagi! Mau berangkat jam berapa kamu sayang? Ibu sudah menyediakan sarapan untukmu. Ini hari pertamamu kuliah nak” , ibu berteriak pagi-pagi dari dapur. Sulit aku membuka mataku dan beranjak dari pulau kapukku ini, disebabkan aku tidur larut malam untuk menyiapkan keperluan dan perlengkapan ospekku. Ibu menyiapkan sarapan untukku sepotong roti dengan isi telur, keju dan susu, hmmm ibu memang sangat memperhatikan kesehatan aku. Karena kegiatan ospek nanti aku akan lelah. Ibu memberikanku bekal untuk dikampus, seperti anak sekolah dasar saja. Berangkatlah aku menuju kampus, dan berharap tidak terlambat.

“maaf kak, itu tadi ban motor tukang ojeknya bocor, jadi…” , dipotong alasanku terlambat. Senior tak menghiraukan, sama halnya sewaktuku berada di SMA guru-guru sudah bosan mendengar alasanku dan kadang bosan mereka menunggu aku mencari sebuah alasan. Dengan gaya cupu seperti badut senior memerintahkan aku ini dan itu, harus aku kerjakan semua itu kewajiban dari seorang mahasiswa baru. Kegiatan yang sangat membosankan, sekiranya hal-hal ini sangat tidak menarik bagiku. Bagiku lebih baik tidur dirumah atau menonton televisi daripada hal-hal yang membuatku bosan seperti ini. Mendengar penjelasan mengenai seputar kampus, pembelajaran, dosen, dan administrasi perkuliahan, membuatku mengantuk. Untuk apa mereka berpanjang-panjang menjelaskan mengenai itu semua? Lah toh nanti aku akan berkuliah disini. Untuk apa juga para panitia dan senior memperkenakan dirinya, nanti juga akan kenal sendirinya, benar-benar membosankan.

Bagian yang seru dari ospek ini adalah disaat kegiatan permainan, cukup menyenangkan. Usai kegiatan games? Duh, membosankan lagi. Untung saja ospek ini berlangsung hanya sehari, aku tak bisa membayangkan kalau ospek ini terjadi selama seminggu. Tidak sanggup aku.

Usai ospek, aku langsung bergegas pulang karena aku sangat letih. “Assalamualaikum, ibu.. hari ini aku lelah sekali. Maaf ibu bekal yang ibu berikan tidak termakan olehku ibu” semoga ibu tidak marah, tapi ku yakin ibu kecewa. Sahut ibu, “tidak apa-apa nak, langsunglah aisyah mandi lalu aisyah beristirahat”. Baiklah mungkin ibu tidak menunjukan kekecewaannya. Aku lekas mandi lalu aku istirahat, aku tidur dan bangun ketika adzan magrib. Lalu segera sholat berjamaah bersama kedua orang tuaku, ayah dan ibu.

“Ibu, boleh gak aku pergi bersama teman-temanku? Aku pengen nonton film terbaru, bu. Filmnya bagus, nera, fania sudah nonton film itu mau nonton lagi. Boleh kan?”, regek aku pada ibu. Sebenarnya diijinkan atau tidak oleh ibu aku akan tetap pergi. Ibu capek melarang aku pergi malam, hampir setiap hari aku pergi bersama teman-temanku. Entah itu makan, nonton, berbelanja dan hanya sekedar nongkrong-nongkrong saja disebuah kafe.

Aku menonton di mal yang kawasannya berada didekat SMA ku dulu, di Jakarta Selatan. Interest yang memuncak merasuki hati aku, fania, dan nera. Kami memesan tiket terlebih dahulu, sambil menunggu jam film dimulai kami mencari restaurant untuk makan. Filmnya mulai satu jam lagi. “eh kamu mau makan apa? Binggung nih”, karena melihat menu. Fania bilang, “ bagaimana makan chiken teriyaki? Udah lama aku gak makan makanan itu cha”. Saran yang bagus. “mbak, saya pesan 3 teriyaki yaaaa! Jangan pake lama, dan minumnya tiga-tiganya orange juice”. Kami makan sambil ngobrol-ngobrol, menikmati suasana karena kami bertiga berkuliah tidak diuniversitas yang sama. Fania dan nera di universitas swasta yang berbeda, dan hanya aku yang diterima diuniversitas negeri. Memang aku lebih unggul daripada mereka, presstasiku disekolah sangat membanggakan. Selalu peringkat pertama.

“udah mulai nih filmnya ren, cepet kebioskopnya lagi”, fania bersemangat menonton film tersebut untuk kedua kalinya. Kami dengan langkah cepat masuk kedalam studio untuk film fantasi luar negeri tersebut. Pemain utamanya idola aku banget. Jalan cerita dan semua unsur yang ada difilm ini memang sangat bagus, dan tidak membosankan.

****

“hari ini hari pertama perkuliahan dimulai, bu”, aku bicara pada ibu. Kelas pertama diadakan jam delapan, untuk matakuliah matematika dasar. Saat aku duduk didalam kendaraan umum, jenuh meradang. Untuk membuang kejenuhanku, aku browsing informasi tentang kehebohan beberapa waktu lalu. Semua orang heboh dengan satu hal ini, aku tak tahu banyak akan hal ini.

Baru-baru ini sosok itu lagi-lagi menggemparkan dunia. Mereka mengadakan pesta besar-besaran untuk sekelompok sosok kecil seperti mereka. Entah apa yang melatari mereka mengadakan pesta tersebut. Aku bisa melihat sosok itu lewat televise, Koran, dan radio tapi setelah pesta itu usai. Yang hebatnya mereka berpesta nyawa. Sangat tertarik dengan hal ini. Jatuh hatiku pada sosok ini. Walau baru sedikit ku tahu mengenai sosok ini. Tapi sosook ini sangat salah dan tidak berkprimanusiaan, sosok ini harus diberi apresiasi dengan hukuman mati. Memang aku jatuh hati namun jatuh hati pada sosok ini dalam kebencian dan bukan bersahabat.

Aku telah sampai dikampus dan aku langsung masuk kekelas, lagi-lagi aku terlambat dan untungnya hanya lima menit keterlambatanku. Dosen untuk mata kuliah matematika dasar sangat mengasikan, cara proses belajar menyenangkan, pendekatan kepada mahasiswa erat, aturan untuk perkuliahan sangat tepat yang beliau buat, dan untuk penyampaian materi pertama kuliah dapat diserap dengan baik. Hari ini hanya satu mata kuliah, sungguh hari pertama yang menyenangkan. Aku mendapat teman-teman yang baik dan tidak sombong. Semua sangat terbuka untuk menjalin pertemanan. Tidak seperti saat di SMA dulu, banyak sekali teman-temanku yang bermain atau berteman memandang status sosialnya saja. Yang kaya dengan yang kaya, yang miskin dengan yang miskin.

***

Membahas mengenai sosok yang sangat misteri itu tidaklah ada habisnya, karena sosok itu memang sulit ditemukan. Kemeriahan pesta mereka ditandai dengan meledaknnya petasan yang melepaskan nyawa orang. Hotel-hotel dan gedung pencakar langit tempat mereka mengadakan pesta, entah pesta untuk perayaan apa, mereka yang lebih tahu bukan aku.

Aku berpandang dengan pria yang enak dipandang, sopan, kuning langsat, dan dia tidak seperti pria seadanya yang bergaya. Penampilannya sederhana, tidak juga seperti mantan-mantanku yang memakai kaos, celana robek-robek, sepatu butut, atau memakai jeans ketat, sepatu jaman sekarang, bergaya seekali lah mereka. Dan ini berbeda, pria ini membuatku tertarik dengan kederhanaannya.
“kenalkan aku Aisyah,” memperkenalkan diri aku kepadanya. Karena dia hanya berani melihat aku sebentar-sebentar saja, tidak pernah waktu lama dan tercengah. Sahutnya, “saya husien azzamar”. Mulailah dari saat ini aku dan dia resmi untuk kenal, dan berbicara dalam hati aku akan mengatur pertemuan berikutnya. Tak susah yang penting nomor telfonnya sudah ku catat di phonebook handphoneku.

Tak lama, jelang satu minggu aku berpacaran dengan dia. Tapi anehnya aku tak tahu banyak mengenai kepribadiaannya. Sulit mencari kepribadian dari dirinya, husein juga tak banyak cerita mengenainya. Yang ia ceritakan hanya hal-hal yang bersifat umum saja. Husein pria yang pintar, wawasannya luas dan pengetahuan mengenai agama sangatlah dalam. Ibadahnya tak jarang ia tinggalkan, ia selalu memprioritaskan ibadah menjadi nomor satu. Saat kita berdua bertemu seringkali ia member pengetahuan,-pengetahuan-pengetahuan mengenai islam, dan mengenai wawasan lainnya. Ibu sudah mengenal husein, tapi ibu tidak suka dengan hubungan ini. Kata ibu, ibu sreg dan mempunyai perasaan yang tidak enak akan kepribadiaan husein. Tapi aku melawan ibu, aku tetap menjalini hubungan diam-diam tanpa sepengetahuan ibu.

Aku mempunyai harapan, dengan hubungan aku sekarang dengan husien. Usia hubungan kami sudah genap satu tahun. Tapi tidak pernah sekalipun aku diajak kerumahnya. Aku tak pernah menuntut ia untuk memperkenalkan aku dengan orangtuanya, karena orangtuanya berada di luarkota tepatnya di Jawa Timur. Sejak ia berusia 20 tahun ia sudah tinggal di Jakarta seorang diri. Sepengetahuanku ia tidak mempunya sanak saudara di Jakarta.

Rumahnya, aktifitas sebenarnya aku tidak pernah tahu. Ia menghubungiku saat pagi sebelum ia berangkat untuk kerja, dan malam setelah ia kerja serta aku bertemu dengannnya hanya saat sabtu-minggu libur ia kerja. Pernah aku bertanya mengenai pekerjaaannya, aktiitas lainnya, dan alamat rumahnya, namun ia tidak pernah menjawabnya. Dia hanya berkata, “Nanti yaa syah, Husein akan memberitahu dan mengajak isyah nanti bila waktunya susah tepat”. Mau diapakan lagi, aku tak ingin menuntut banyak hal darinya, karena ia tidak pernah menuntut satu hal dariku.
Masuk kedalam usia hubungan kami yang kedua tahun, harapanku belum juga diwujudkannya. Aku sempat berfikir, hubungan ini baginya serius atau tidak. Sebab aku sampai sekarang tidak bisa juga mengenal sosoknya lebih jauh. Aku tidak tahu dengan cara apa aku dapat mendapatkan cerita akan kepribadian ia.

Hari ini aku ingin merayakan hubungan kami yang sudah keduapuluhempat bulan. Hari ini resmi, usia kedua tahun. Kami hanya merayakan disebuah rumah makan sederhana. Berbincang-bincang akan tentangku. Aku bercerita kepadanya, apa pekerjan ibu, ayah, dan aku bercerita hal-hal mengenai keluargaku dengan niat ia akan mengenal aku. Dan berharap ia akan bercerita hal yang sama kepadaku, tapi ternyata tidak.

Setelah kami merayakan hari jadi kami yang kedua, aku diantarkan tepat sampai depan rumah. Dan ibu memergoki kami. Aku disuruhnya tegas untuk masuk kedalam rumah. Tanpa mempersilahkan Husein untuk masuk, setidaknya bertamu dan diseduhkannya teh. Saat aku masuk ibu langsung memarahi aku, ibu bertanya mengapa aku masih menjalin hubungan dengan husein?, selama ini ibu tidak tahu bahwa aku tetap berhubungan, berpacaran dengan husein. Ibu menasehati aku agar aku berhati-hati terhadap husein, firasat ibu yang kuat membuat ibu melarang aku keras untuk melanjutkan hubungan aku dan husein. Aku akan terima perkataan ibu, tapi lagi-lagi aku tak akan menuruti perintah ibu. Dan berharap kepada ibu, ibu akan menyetujui hubungan kami. Ayah tidak tahu mengenai hal ini. Karena ayah sedang banyak tugas dan mempercayakan ibu untuk bisa mengatur dan menasehati aku.

****

Aku bertemu husein di halte bus, tapi aku tak ingin menyapa ia. Ia sedang menunggu angkot yang menuju rumahnya malam-malam gini. Lalu aku mengikutinya, aku penasaran dimana tempat tinggalnya yang tidak pernah ia beritahu kepadaku. Ternyata ia tinggal ditempat yang terpencil, yang warganya juga tak banyak. Sepetak rumah kontrakan, berlingkungan kumuh bukan perumahan bahkan komplek elit. Aku kira mungkin juga tak bertetangga. Akhirnya aku tahu dimana tempat tinggal husein, dengan aku tahu dimana husein tidak mengurangi rasaku kepadanya. Walau aku tahu ia bukanlah orang kaya. Itu tak apa bagiku.

Aku berencana besok akan bolos untuk kuliah, padahal aku sedang mempersiapkan materi untuk bahan skripsiku. Tapi hal yang membuat aku bolos kuliah cukup penting. Hari ini aku yakin pada jam-jam ini husein tidak ada dirumah. Baiknya aku kerumahnya untuk melihat dan sekedar mencari informasi tentang ia.

Sampai aku didepan rumahnya, yang sepetak dan hanya kontrakan. Aku melihat jendelanya yang tidak ditutupi gorden. Aku kaget dengan apa yang aku lihat. Walau rumahnya kecil sepetak, aku tidak melihat barang-barang atau benda-benda selayaknya sebuah rumah. Rumah ini kosong seperti tisdak ada yang menghuninya. Lalu aku pergi kesamping bagian rumahnya, aku ingin mengintip kamarnya. Ternyata kamar jendelanya tertutup gorden dan aku tidak dapat melihat apa-apa.

Aku memikirkan cara bagaimana aku bisa membuka jendela kamar itu, dan aku coba untuk menariknya. Alhasil jendela itu terbuka dan aku masuk kedalam kamarnya melalui jendelanya. Hanya ada kasur, satu batal, dan lemari kecil plastik. Sungguh aneh dan aku semakin bertanya-tanya. Apa ini cerminan dari kederhanaannya atau ada hal lain dibalik cerminann ini semua.
Aku penasaran melihat lemarinya. Saat aku membuka lemari dan melihat isi lemarinya ada yang aneh dan membuat aku kaget. Lemari ini tidak terisi baju, melainkan kabel-kabel, barang yang terlihat seperti tembaga, bahan-bahan kimia seperti petasan-petasan yang disatukan dan diberi benda penanda waktu.

Aku langsung mengingat ibu, yang sudah melarangku untuk menjalani hubungan ini. Aku melawannya dan membela husein kekasihku yang ternyata merupakan pengikut dari sosok yang berpesta nyawa digedung-gedung pencakar langit dan hotel berbintang. Aku telah menjalin hubungan dengan orang-orang yang tidak berkprimanusiaan. Salah satu dari orang-orang yang ayahku cari ternyata adalah kekasihku, pantas saja ia memacari aku dan begitu terlihat aman. Ia tahu apa yang sedang ayahku lakukan, rencana ayahku dan rekan-rekannya untuk menangkap teroris diluar sana dari ceritaku.

Apa yang harus aku lakukan, orang yang aku cintai adalah orang yang benar-benar harus dihukum dan diserahkan pada aparat kepolisian. Hal yang sangat memalukan dan tidak dibenarkan bahwa aku anak dari salah satu aparat kepolisian berpacaran dengan salah satu dari teroris. Membuat kakiku lemas dan melamun duduk ditempat tidur, tiba-tiba aku mendengar orang membuka pintu. Husein sepertinya pulang.

Aku lalu keluar melalui jendela yang sama, dan aku tetap mengumpat di samping jendela pada dinding. Husein mungkin tahu, dan ia berbicara dengan keras, “Aisyah, pergilah! Aku tidak ingin menyakitimu. Sekarang kau telah tahu dengan sendirinya. Tak ada yang bisa disalahkan, tak ada yang harus disesali. Pergi isyah.. pergi isyah.. Anggap tidak ada pertemuan, maka tidak ada kisah selama dua tahun. Maafkan aku isyah, aku mencintaimu. Karena aku mencintaimu tolong pergi! Dan janagn campuri urusan aku. Aku hanya punya kau isyah. Tak ada keluarga. Aku anak tunggal dan orangtuaku sudah dipanggil Allah, dan aku akan menyusul mereka dengan kesyahid-an. Mungkin kamu dapat melihatnya ditelevisi. Pergi isyah.. pergi…”.

Aku mengencangkan gerak kakiku untuk berlari dan pulang kerumah. Aku bercerita kepada ibu. Karena harus dan kewajiban husein harus ditangkap dan dihukum. Lalu, dari ibu ayah tahu mengenai hal itu. Ayah dan segenap rekannya menjadikan aku saksi untuk pelacakan. Aku diminta untuk menunjukan dimana tempat tinggal, pekerjaan, dan tempat kerjanya serta tempat biasa husein datang. Tapi yang aku tahu hanya tempat tinggal, masih dihari aku mengetahui semua tentang husein, aku dan ayah serta rekannya bahkan aparat kepolisian lainnya, mengepung rumah kontrakan husein. Ketika dicheck kedalam rumah, tidak ada husein tidak Nampak apapun barang bukti yang ada. Yang ada hanya ingatan aku saja saat merayakan usia hubungan aku diharinya yang kedua tahun, husein berkata “aku akan letakan hadiah kecil disamping pot. Kamu dapat ambil ketika kamu sudah dapat mengetahui dengan sendirinya dimana temapat tinggalku”. Aku langsung mencarinya. Dan ternyata benar.

Hadiah kecil sebuah Al-quran yang dapat kubawa kemana-mana dan sebuah kaset yang dilabelnya tertanggal 22 maret 2006. Namun yang terlihat pada jamku adalah tanggal 29 maret 2008. Berarti saat dua tahun yang lalu. Saat dia dan aku resmi berpacaran. Aku repot dan menjadi orang penting untuk kesaksian dalam pelacakan ini. Ayah dan ibu juga terus menasehati aku. Aku down dan aku depresi akan masalah yang ada. Kaset yang diberikan oleh husein belumku dengar dan aku takut untuk mendengarnya. Membuat aku selalu berbicara dalam hati, “aisyaaaaaaahhhh, jangan lakukan itu lagi. Aisyah jadilah lebih baik, aisyah itu sosok yang berpesta nyawa yang dulu kau bilang harus dihukum mati”.

Aku tidak ingin mengulangi ini lagi, ayah ibu! Suatu hari nanti ayah bertemu husein. Ayah dapat membunuh dia. Tidak ada pertemuan, tidak kisah selama dua tahun , dan tidak juga ada yang namanya cinta.

No comments:

Post a Comment