Selamat datang dalam rasa dan pikiran

Jangan pernah membuang satu pun rasa atau pikiran yang ada!

Tuesday, July 6, 2010

Hari ini aku sakit, mungkin esok akan mati

Kalau aku bercerita aku seperti mengulang kembali kejadian itu, hari ini aku sakit dan mungkin esok akan mati. Aku ingin disamping Tuhan, aku ingin tahu rencana-Nya untuk aku. Tapi untuk yang pertama dalam masalah ini, tidak akan mungkin aku dapat disamping Tuhan, wujud-Nya tidak dapat kulihat. Hanya kuasa yang dapat mewujudkannya.

Hari ini aku sakit dan besok aku akan mati. Hari ini aku mengingat semua waktu yang telah terjadi, aku mempunyai 51 hari bersama dia. Sungguh dia sangat mencintaiku, berusaha menyakinkan aku. Usia kami tak jauh berbeda. Hanya selisih satu tahun lebih tua dia. Sosoknya mengingatkan aku pada seseorang yang sudah mati dulu. Dan aku merasa rienkarnasi telah tercipta. Pada sosok baru tanpa sebuah kegelapan.

Cinta hanya sebatas apa yang dilihat oleh mata, sayangnya cinta itu sebenarnya tak punya mata. Hanya sekejap cinta mengedip, ia langsung memainkan asmaranya. Tapi untuk diriku, aku telah membunuh asmara terlebih dahulu. Menjadikan cinta untuk diriku sendiri. Diriku yang telah mencintai sosok baru itu habis tersorot cahaya yang memutar.

Aku yakin bila aku bercerita tidak akan terjadi apa-apa. Hanya sekedar mati. Aku mencintainya dan dia mencintaiku. Hubungan kami sudah 51 hari tepat hari ini. Selama aku menjalin hubungan dengannya, aku seperti dipenjara, aku bermain dengan teman, berkomunikasi dengan teman wanita ataupun pria, sekadar bermain obrol diinternet adalah suatu masalah yang besar untuk dia. Aku anggap semua ini karna rasa sayangnya yang teramat dalam padaku.

Selama ini aku tahu dia sedang menjalani satu hubungan lagi dengan kekasih lain. Dengan mantan kekasihnya. Saat itu aku meminta untuk mengakhiri hubungan ini, tapi dia tidak mau. Dia selalu berkata, "aku sayang kamu, aku ingin selamanya dengan kamu. Maafkan aku, ini yang terakhir, aku khilaf sayang". Karena permintaanya yang merengek "untuk kali petama ini saja, aku akan memaaafkan kamu. Kesempatan tidak akan ada dan hidup diwaktu lain. Hanya ada pada kali pertama diberikan"

Jalannya waktu setelah peristiwa tersebut (satu bulan usia hubungan kami). Aku mencoba memberikan kesepampatan dan kepercayaan untuknya. Dia jalani dengan nikmat dan dimataku ada perubahan yang menyenangkan. Entah pada perubahan yang sebenarnya atau hanya menutupi sesuatu luka busuk yang takut tercium baunya.

Selanjutnya yang terjadi adalah saat aku sedang berada disampingnya dering telepon gengamnya berbunyi dan yang kulihat ada pesan singkat yang tertulis "sayang aku pergi ya". Aku kira itu adalah pesan dariku, namun apa? Aku tidak mengirim pesan saat itu. Kekasih siapa itu?

Aku lihat pesan singkat itu yang untungnya bernama. Nama yang sama seperti sebelumnya, nama mantan kekasihnya. Aku bertanya mengenai penjelasan darinya. Yang aku dapat perkataa dia, "aku minta maaf, aku khilaf dan aku salah. Wanita itu yang mengeja aku, wanita itu sudah kuberi tahu namun tetap saja mengejar aku. Aku salah merespon dia. Aku salah dan aku minta maaf. Aku tidak pernah bertemu dengannya. Hanya sekadar berkomunikasi lewat telepon genggam". Aku mengingat dan berfikir, ini adalah kesalahan yang kali kedua yang diperbuat dan yang kufikir tidak akan ada lagi kesempatan.

Sama untuk kali kedua aku mengakhiri hubungan ini dan lagi-lagi dia tidak ingin. Keras kepala aku yang ingin mengakhiri hubungan dan keras kepalanya dia yang tidak ingin hubungan ini berakhir membuat keputusan aku semakin keras. Dalam dudukku dia bersujud untuk meminta maaf, perimintaan maaf pasti ku terima namun untuk kembali. Sepertinya harus ku pikirkan.

Diwaktu yang sama dia berubah menjadi sosok yang baik, tapi itu tidak mengalihkan aku atas kesalahannya. Dia berjanji untu tidak mengulangi kesalahannya dan meyakinkan bahwa dia memilih aku. Serta meyakinkan bahwa wanita itulah yang mengejar dia. Bukan dia. Aku akan mempercayainya. Karena ucapnya yang ingin sampai menutup mata bersamaku. Semoga.

Aku berharap mulai dari detik itu, aku akan ulang semua dari awal dan menghapus masala yang ada. Untuk kehidupan yang baru dalam hubungan. Serta untuk harapan yang telah ada.

Aku yakin dengan keputusanku. Aku ikhlas wanita itu menjalani hubungan dengan kekasihku. Lebih tepat mantan kekasihku.

Aku ikhlas mencintai dia, tanpa harap apapun. Sekiranya aku telah mencintainya maka aku harus siap untuk kehilangan dia. Ada satu hal yang akan kurindukan dari akhir hubungan kami, yaitu keluarganya. Aku menganggap kedua orang tuanya adalah orang tuaku. Aku menjaga hati mereka. Berusaha menjadi yang terbaik untuk keluarganya.

Boleh aku berpesan hangat untuk yang pernah menjadi kekasihku?
"Tanggungjawab aku atas kamu dari keluarga kamu sudah tidak padaku. Terima kasih kepercayaan yang keluarga kamu berikan dan kasih sayang hangat. Aku ingin kamu tidak menyakiti hati kedua orangtuamu. Dan mulailah menemukan jatidiri. Jangan terus mencari. Aku juga berterima kasih atas pemberian cintamu, cintamu membuatku tidak menghadirkan pria lain dihidupku. Aku berdoa yang terbaik untukmu. Aku ikhlas dirimu bersama wanita itu. Balut doa untuk kalian berdua. Optimis jalan terbaik akan kalian lalui."

Sekali lagi, aku sayang kedua orang tuamu dan keluargamu. Jaga hati mereka, beri mereka yang terbaik untuk hidup mereka dari tanganmu. Jangan sekalipun buat mama mengusap dada untuk sabar. Aku yakin kamu bisa. Kamu adalah pria yang baik. Salam cinta yang pernah ada

No comments:

Post a Comment