Ini?
Itu?
Adalah ini..
Adalah itu..
Dan,
ini adalah ini..
itu adalah itu..
namun,
ini tetap ini..
itu tetap itu..
tidak!
Ini tidak akan menjadi itu
begitu pun dengan itu
lalu,
ada apa dengan ini?
Sedangkan itu?
Tunjuk ini!
lalu lihat itu..
Ini akan membawa itu..
Lalu, itu akan memperlihatkan ini..
Maka janganlah bimbangkan ini dengan petunjuk itu..
Dini Afiani Iskandar
Saturday, January 2, 2010
Isyarat Kesempatan Terakhir
Bila malam ini kesempatan terakhir untuk bicara berbisik, tersedu, dan dalam hati. Biarkan...
Bila malam ini kesempatan terakhir untuk menyusun huruf ke kata, kata ke kalimat, kalimat menjadi bait-bait rahasia. Biarkan...
Bila malam ini kesempatan terakhirk untuk mengerakan tanganku, menuliskan semua pembicaraan hati. Biarkan...
Namun malam ini masih menjadi misteri dalam detik ini, biarkan...
Aku sampaikan hasrat serta nyata kekuatan cinta ini dan mengatakan bahwa AKU MENCINTAI RIZKY, sampai detikku habis untuk menyusun kata hingga detik pembaca tulisan ini habis membaca dan mengartikan makna tak hanya itu, aku mencintainya hingga daya gravitasi tak hanya habis untukku namun untuk semua yang bernafas
Dini Afiani Iskandar
Bila malam ini kesempatan terakhir untuk menyusun huruf ke kata, kata ke kalimat, kalimat menjadi bait-bait rahasia. Biarkan...
Bila malam ini kesempatan terakhirk untuk mengerakan tanganku, menuliskan semua pembicaraan hati. Biarkan...
Namun malam ini masih menjadi misteri dalam detik ini, biarkan...
Aku sampaikan hasrat serta nyata kekuatan cinta ini dan mengatakan bahwa AKU MENCINTAI RIZKY, sampai detikku habis untuk menyusun kata hingga detik pembaca tulisan ini habis membaca dan mengartikan makna tak hanya itu, aku mencintainya hingga daya gravitasi tak hanya habis untukku namun untuk semua yang bernafas
Dini Afiani Iskandar
Cerita Kami yang Tak Berdaya Menolak Cinta
Sofa empuk itu berteriak-teriak halus.
Kami dipangkunya.
Bersandar tak punya daya.
Malaikat-malaikat dan para setan berdebat serau.
Aku tak punya kata lain,
Bahwa ini adalah kendali kami.
Yang terkapar disampingku.
Lalu, kain putih bersih yang kumiliki,
Dan yang menjadi bentukku sendiri kau ambil!
Kau miliki,
Kau kuasai,
Dan Kau sentuh!
Sehingga hati ini lemah..
Sampai kain itu lebih tak berdaya,
dan tak bernafas.
Terkapar dalam lantai yang basah.
Kemudian, dua mata kaki terangkat,
terbuka lebar keatas dan tertahan.
Menyambut kedatangan jelma cinta
Dan ia masuk ke dalam celah-celah.
Yang tadinya tertutupi oleh kain putih.
Lantai yang basah semakin dalam,
dan kami nikmat bermain.
Sampai kami terkapar,
tak berdaya, tak bernafas,
karena cinta.
Ini menyatukan nafas dan jiwa, baiklah.
separuh nafasku berada di dirinya.
Ini cinta!!!
Jangan hentikan ini,
jaga kami.
Nikmat ini sedang kami nikmati
Dini Afiani Iskandar
Kami dipangkunya.
Bersandar tak punya daya.
Malaikat-malaikat dan para setan berdebat serau.
Aku tak punya kata lain,
Bahwa ini adalah kendali kami.
Yang terkapar disampingku.
Lalu, kain putih bersih yang kumiliki,
Dan yang menjadi bentukku sendiri kau ambil!
Kau miliki,
Kau kuasai,
Dan Kau sentuh!
Sehingga hati ini lemah..
Sampai kain itu lebih tak berdaya,
dan tak bernafas.
Terkapar dalam lantai yang basah.
Kemudian, dua mata kaki terangkat,
terbuka lebar keatas dan tertahan.
Menyambut kedatangan jelma cinta
Dan ia masuk ke dalam celah-celah.
Yang tadinya tertutupi oleh kain putih.
Lantai yang basah semakin dalam,
dan kami nikmat bermain.
Sampai kami terkapar,
tak berdaya, tak bernafas,
karena cinta.
Ini menyatukan nafas dan jiwa, baiklah.
separuh nafasku berada di dirinya.
Ini cinta!!!
Jangan hentikan ini,
jaga kami.
Nikmat ini sedang kami nikmati
Dini Afiani Iskandar
Detik Hujan Berdansa
Menunggu detik-detik hari ke tiga puluh
Berakhir dalam hitungan bulan di kalender pink itu,
Dan ku pegang pena untuk memberi tanda silang
Sebagai penanda hari ke emam puluh usia hubungan kami.
Saat aku memberi tanda silang pada kalender pink-ku
Hujan turun berdansa dalam senyap alunan
Dini Afiani Iskandar
Berakhir dalam hitungan bulan di kalender pink itu,
Dan ku pegang pena untuk memberi tanda silang
Sebagai penanda hari ke emam puluh usia hubungan kami.
Saat aku memberi tanda silang pada kalender pink-ku
Hujan turun berdansa dalam senyap alunan
Dini Afiani Iskandar
Bukan Syahwat
Kata yang tak bisa dilafalkan,
ini bukan syahwat romantisme.
Yang lahir dari rahim makhluk Tuhan.
Melainkan, kesederhanaan dan shirotul
yang menghantarkan mereka sahabatku,
menghidupkan,
menjabat,
menjagaku dalam grafitasi.
Dewa alam terus menjaga manusia,manusiamu dalam kotakan pijak.
Dini Afiani Iskandar
ini bukan syahwat romantisme.
Yang lahir dari rahim makhluk Tuhan.
Melainkan, kesederhanaan dan shirotul
yang menghantarkan mereka sahabatku,
menghidupkan,
menjabat,
menjagaku dalam grafitasi.
Dewa alam terus menjaga manusia,manusiamu dalam kotakan pijak.
Dini Afiani Iskandar
Biarkan Langit dan Hujan itu Menangis
Saat satu malam lalu
dengan luas hati dan fikiranku,
Aku telah tentukan bahwa Aku adalah langit
dan para awan yang berjalan.
Sedangkan Kau adalah bintang yang bersinar,
isi malam disaat sentuhan dalam redup.
Aku berada dibawahnya,.
Aku hanya insan dalam kata yang membelitku.
Aku tak hempas satu kata keraguan,
untuk desahan yang ada.
Sambil menyanyikan upacara turunnya hujan,
dan tarian penarik ketenagan,
biarkan langit itu menangis,
dan mulailah!!!
dengan luas hati dan fikiranku,
Aku telah tentukan bahwa Aku adalah langit
dan para awan yang berjalan.
Sedangkan Kau adalah bintang yang bersinar,
isi malam disaat sentuhan dalam redup.
Aku berada dibawahnya,.
Aku hanya insan dalam kata yang membelitku.
Aku tak hempas satu kata keraguan,
untuk desahan yang ada.
Sambil menyanyikan upacara turunnya hujan,
dan tarian penarik ketenagan,
biarkan langit itu menangis,
dan mulailah!!!
Di titik itu Kau!
Putih, putih dan putih.
Diatasnya tidak ada apa-apa.
Kelabupun menjadi air.
Menyegarkan!
Membangunkan Aku,
Dan terdengar pria bernyanyi melafalkan syahadat cinta.
Lalu,
Sehelai kain melayang.
langkahi semut-semut kecil.
Menata dimana harus membalutku.
maka, Ia menjatuhkan titknya.
Dan Kau!
Dini Afiani Iskandar
Diatasnya tidak ada apa-apa.
Kelabupun menjadi air.
Menyegarkan!
Membangunkan Aku,
Dan terdengar pria bernyanyi melafalkan syahadat cinta.
Lalu,
Sehelai kain melayang.
langkahi semut-semut kecil.
Menata dimana harus membalutku.
maka, Ia menjatuhkan titknya.
Dan Kau!
Dini Afiani Iskandar
Priaku Hidupkan Nafas dengan Air-air Ini
Kamu menghantarkan aura indahku sebagai wanita, pria terbaik pernah mencintai aura indahku. Cintamu menarik aliran darahku tunduk dalam ketulusanmu, menuju ikhlas sang hatimu menerima adaku. Indahku, hanya dalam kotaku dalam keramaian kotamu memang Aku bukanlah keindahan. Maafkan, bila kemudian Aku menerjang emosi yang lama telah Kau baringkan. Dalam kotaku Aku mendirikan air-air yang sedikitnya mengindahkan dan menghidupkan nafas-nafas yang kan dijemput oleh sang pencabutnya. Priaku biarkan air-air ini terus menghidupkan nafas-nafas kita, lalu jerat semua yang pencabut dengan maaf serta dinginnya ikhlasmu.
Dini Afiani Iskandar
Dini Afiani Iskandar
Sayap-sayap kepakan merpati --word's dear just my first sight
Terkepak sayap-sayap sang merpati, dia melangkah kearah pagi dihari esok. Langkah pertamanya beralas serpihan kaca berasal dari cermin yang terlihat sebelum langkah pertamanya. Ketakutan meretakan benih paginya dengan segala sautan serta kilauan. Dengan putih merpati yakinkan dia dengan kicauan yang menghangatkan memuja hati dan memberi aura cintamu
Dini Afiani Iskandar
Dini Afiani Iskandar
Elektro Dewa Kematian
Ini adalah merangkai pagi menghauskan satu nyanyian indah dalam lonceng yang berdebah. Menepuk belah plafon roset dari rangka langit-langit berwajah isolator pita yang takkan terpatahkan. Hawa dari sang tranducer berubah dari energi listrik yang mematikan menjadi energi yang menusuk kerangka tulang. Yang esa mengirimkan permainan trafo adaptor kehidupan untukku yang teruji dalam volt meter detik tuhan.
Tak mampu mengukurnya, jemariku adalah kerdilnya hamba-hamba yang terhempas oleh satuan komponen jari-jari tuhan yang mencakar dunia. Nafas wofer yang ku lafazkan merunduk rendah untuk meriahkan kesepianku. Hantarkan seorang adam keluar dari resistor yang tak ingin lagiku jalani karna Dia sebatas sang pagiku yang menyambutku satu detik.
Terus menyimpan dan mengumpulkan prajurit catu dayaku, yang mendayakanku untuk menjejak sebagai sang harap. Salahkah arah yang menuaiku? Membujuku dalam meriam yang mematikan. Terus mencaci sang pencabut nyawa agar membawa dewa kematian bersamaku. Dan kematian itu kulihat untuk pelupuk mata dengan sosoknya.
Tak mampu mengukurnya, jemariku adalah kerdilnya hamba-hamba yang terhempas oleh satuan komponen jari-jari tuhan yang mencakar dunia. Nafas wofer yang ku lafazkan merunduk rendah untuk meriahkan kesepianku. Hantarkan seorang adam keluar dari resistor yang tak ingin lagiku jalani karna Dia sebatas sang pagiku yang menyambutku satu detik.
Terus menyimpan dan mengumpulkan prajurit catu dayaku, yang mendayakanku untuk menjejak sebagai sang harap. Salahkah arah yang menuaiku? Membujuku dalam meriam yang mematikan. Terus mencaci sang pencabut nyawa agar membawa dewa kematian bersamaku. Dan kematian itu kulihat untuk pelupuk mata dengan sosoknya.
Hanya Permukaan pada Pagi
Aku baru hanya mengambil pagi. Rekat-rekat menjemari di hati. Aku menyentuh horizon langit membuai asa yang mengasap, terbungkus oleh luas keindahan. tapi diam ! aku tak mengenal sosoknya.
Aku hanya menyapa permukaan dan merebahkan telapak tangan untuk memulai langkah. Malam menyirat cahaya pagi untuk sosok pertama di mataku. Kata-kata lapar akan kepercayaan, hanya teriakan dan cacian dari rakyat terkasih untuk menjabatku dari jatuh. Untuk ini aku takkan mencari kekasih sahabat, aku diam menghirup sapaan hangat pagi di permukaan.
Aku ingin kamu dan aku jadi pagi mengikat malamnya dari permukaan hingga dasar dan membuka ikatan yang ku kunci dari hausnya air mata yang menyakiti.
Dini Afiani Iskandar
Aku hanya menyapa permukaan dan merebahkan telapak tangan untuk memulai langkah. Malam menyirat cahaya pagi untuk sosok pertama di mataku. Kata-kata lapar akan kepercayaan, hanya teriakan dan cacian dari rakyat terkasih untuk menjabatku dari jatuh. Untuk ini aku takkan mencari kekasih sahabat, aku diam menghirup sapaan hangat pagi di permukaan.
Aku ingin kamu dan aku jadi pagi mengikat malamnya dari permukaan hingga dasar dan membuka ikatan yang ku kunci dari hausnya air mata yang menyakiti.
Dini Afiani Iskandar
Geografi Keindahan Cinta
Perempuan dengan kesederhanaan terbaring dibawah horizon langit dengan ijab kepada para kerlip mengenai curahan yang berbicara di hatinya. Perempuan yang terbalut oleh dingin malam karna mencinta satu pria dengan keindahannya. Dengan sehelai kain putih yang menutup seluruh lekuk tubuh Ia hantarkan kejernihan perasaan serta ucapan. Di gurun dengan aliran pasir yang bertabuh berjalan ditengah jembatan yang terbuat dari sehelai benang dan terputus-putuslah benang itu, perempuan sahaya kah dia lelah menawarkan kesabaran yang luar biasa hebatnya untuk melewati jembatan tersebut? Tuhan berikan tangan ini kepada satu pria dengan keindahannya karena bila tidak sebelum sampai ujung jalan perempuankan terjatuh.
Dari palung yang harus ku gapai kedasar, aku lemah!. Jalan setapaku terkuasai sang meander hingga tak dapat memandang jauh lurus. Jagat raya mengilhami kebesaran cinta perempuan mampu menghapus kelelahan ketika kelelahan mencabik tulang-tulang rapuhku. Perempuan itu melihat indahnya laguna dengan lirik lirihnya, menenangkan jiwa sampai Ia di ujung fyord. Dari kerajaan marine yang di kuasai oleh satu pria dengan keindahan menghembuskan aeolis yang menelan semua lelahku. Sampai keikhlasanku mencinta terus menjelma seperti dewa barkhan.
Biar perempuan terus mencintai satu pria dengan keindahannya. Karna hibernasi dalam angan dan percaya bahwa cinta kembali, kan terwujud dengan sejuta meteor kebahagia bersama pria tersebut. Biar perempuan itu aku.
Dini Afiani Iskandar
Dari palung yang harus ku gapai kedasar, aku lemah!. Jalan setapaku terkuasai sang meander hingga tak dapat memandang jauh lurus. Jagat raya mengilhami kebesaran cinta perempuan mampu menghapus kelelahan ketika kelelahan mencabik tulang-tulang rapuhku. Perempuan itu melihat indahnya laguna dengan lirik lirihnya, menenangkan jiwa sampai Ia di ujung fyord. Dari kerajaan marine yang di kuasai oleh satu pria dengan keindahan menghembuskan aeolis yang menelan semua lelahku. Sampai keikhlasanku mencinta terus menjelma seperti dewa barkhan.
Biar perempuan terus mencintai satu pria dengan keindahannya. Karna hibernasi dalam angan dan percaya bahwa cinta kembali, kan terwujud dengan sejuta meteor kebahagia bersama pria tersebut. Biar perempuan itu aku.
Dini Afiani Iskandar
Manusianya Allah itu Kerdil
Aku tak dapat melihatnya, Para Sahabat maupun semua nyawa bernafas yang menjadi pemainnya sungguh tak melihat. Aku dan Mereka tak dapat melukiskannya bahkan sampai yang terhebat dan penguasa. Dengan tundukku sujud sembah hanya terdapat keberadaannya. Beserta lafaz-lafaz ayat suci bawa menuju pintu surga kumandangkanlah.
Manusianya Allah itu kotor penuh dengan serbuk serpih dosa. Sucikan semua kotormu dengan sujudmu, sembahyangmu, waktu beserta gerak langkahmu dalam kotak kebaikan. Aku termasuk dalam manusianya Allah yang lemah tanpa isyarat terdiam dan terinjak karena Aku tak dapat bangun dalam kawat-kawat duri ini. Kawat-kawat duri yang menaikan derajat keridhoanku sujud kepada Allah. Aku unsur yang membutuhkan air pertolongan para Sahabat-sahabat untuk melepas dahaga tangisanku, menghantarkan raga-raga sejuta cita dalam tulang-tulang yang membaur. Dan bermain dalam ayun-ayun yang teranta bersama para Sahabat bermulut manis.
Manusianya Allah lihat cermin ini, bahwa kau bukan siapa-siapa bahkan kau adalah kerdil butir-butir dunia. Setinggi apa pun kau menatap sesamamu untuk dirimu. Kau tetap kerdil wahai manusia. Buang jauh pandangan angkuhmu untuk dunia.
Dini Afiani Iskandar
Manusianya Allah itu kotor penuh dengan serbuk serpih dosa. Sucikan semua kotormu dengan sujudmu, sembahyangmu, waktu beserta gerak langkahmu dalam kotak kebaikan. Aku termasuk dalam manusianya Allah yang lemah tanpa isyarat terdiam dan terinjak karena Aku tak dapat bangun dalam kawat-kawat duri ini. Kawat-kawat duri yang menaikan derajat keridhoanku sujud kepada Allah. Aku unsur yang membutuhkan air pertolongan para Sahabat-sahabat untuk melepas dahaga tangisanku, menghantarkan raga-raga sejuta cita dalam tulang-tulang yang membaur. Dan bermain dalam ayun-ayun yang teranta bersama para Sahabat bermulut manis.
Manusianya Allah lihat cermin ini, bahwa kau bukan siapa-siapa bahkan kau adalah kerdil butir-butir dunia. Setinggi apa pun kau menatap sesamamu untuk dirimu. Kau tetap kerdil wahai manusia. Buang jauh pandangan angkuhmu untuk dunia.
Dini Afiani Iskandar
Bicara Indonesia
Indonesia bersamaku, dengan kumandang Indonesia Raya.
Kibarkan Merah-Putihku, ujung tundukku satu telapak tangan hadapkan pelipis. Rakyatmu hadapkan masa depan pada pion-pion calon penguasamu.
Bicaralah Indonesia! Kita tak punya banyak waktu tuk berdiam diri. Rakyatmu rapuh dalam nestapa kemiskinan. 3 pion berdiri dengan teriakan suara "BAHWA AKULAH". tanyakan Mereka, Mereka itu siapa?
Adakah Mereka Putih dibawah merah untuk kejujuran bangsa ini?
Adakah Mereka Merah diatas Putih untuk keberanian membawa bangsa ini di hormati oleh jagat raya?
Adakah Indonesia Raya terus meramaikan semangat juang pemuda bangsa memajukan Indonesia?
Adakah pion menjaga semut bangsa dalam tidur pulasnya?
Adakah ribuan ratus juta kebudayaan akan selalu mengisi layar kaca mata bangsa ini?
Penguasa hari esok masih ada banyak sedikitnya pertanyaaan yang harus dilampirkan dengan tanggungjawab untuk satu dunia Indonesia Raya
Dini Afiani Iskandar
Kibarkan Merah-Putihku, ujung tundukku satu telapak tangan hadapkan pelipis. Rakyatmu hadapkan masa depan pada pion-pion calon penguasamu.
Bicaralah Indonesia! Kita tak punya banyak waktu tuk berdiam diri. Rakyatmu rapuh dalam nestapa kemiskinan. 3 pion berdiri dengan teriakan suara "BAHWA AKULAH". tanyakan Mereka, Mereka itu siapa?
Adakah Mereka Putih dibawah merah untuk kejujuran bangsa ini?
Adakah Mereka Merah diatas Putih untuk keberanian membawa bangsa ini di hormati oleh jagat raya?
Adakah Indonesia Raya terus meramaikan semangat juang pemuda bangsa memajukan Indonesia?
Adakah pion menjaga semut bangsa dalam tidur pulasnya?
Adakah ribuan ratus juta kebudayaan akan selalu mengisi layar kaca mata bangsa ini?
Penguasa hari esok masih ada banyak sedikitnya pertanyaaan yang harus dilampirkan dengan tanggungjawab untuk satu dunia Indonesia Raya
Dini Afiani Iskandar
Tangis Ini Milik Siapa?
Pada pesta yang ku buat untuk mengatakan pada dunia bahwa ada satu pria yang ku cinta dan ku ketahui mencinta. Dalam nyanyian malam dengan bibir angin yang merajalela membisik lirik lirih malam hari. Aku dengan lensa mataku, melihat layar tanpa sandiwara lagi. Dalam layar terlihat peperangan dalam kehidupan, ada sahabatku yang menyambut cinta yang bukan miliknya.
Aku selalu berbicara pada Tuhan bila ada dua orang yang aku cintai dan sayangi melukiskan jalan ceritanya dihatiku dengan jarum-jarum yang mengetuk airmata, apa yang harus aku lakukan?
Aku sebagai orang yang tak sempurna hanya dapat ikhlas menjalaninya, biarkan walau mereka tak bersahabat denganku. Kan tetap ada Tuhan yang menjaga Aku dalam kekuatanya yang di hantarkan di setiap rusukku.
Tuhan setelah ini Aku kan terus menjaga membingkai cinta. Karna tak ada insan yang salah dalam kisah ini. Ini hanya kawat duri yang harus kulewati untuk mbuktikan besarnya kekuatan hatiku dalam kisah ini.
Biarkan jalan ini jadi abu serta asap karna apapun yang ada akan terus ada mawar-mawar yang mengharumkan kasih cinta yang ada atas namanya.
Dini Afiani Iskandar
Aku selalu berbicara pada Tuhan bila ada dua orang yang aku cintai dan sayangi melukiskan jalan ceritanya dihatiku dengan jarum-jarum yang mengetuk airmata, apa yang harus aku lakukan?
Aku sebagai orang yang tak sempurna hanya dapat ikhlas menjalaninya, biarkan walau mereka tak bersahabat denganku. Kan tetap ada Tuhan yang menjaga Aku dalam kekuatanya yang di hantarkan di setiap rusukku.
Tuhan setelah ini Aku kan terus menjaga membingkai cinta. Karna tak ada insan yang salah dalam kisah ini. Ini hanya kawat duri yang harus kulewati untuk mbuktikan besarnya kekuatan hatiku dalam kisah ini.
Biarkan jalan ini jadi abu serta asap karna apapun yang ada akan terus ada mawar-mawar yang mengharumkan kasih cinta yang ada atas namanya.
Dini Afiani Iskandar
Kisah di Pinggir Pantai
Kemarin saatku mengukir indah awal kisah aku dan kamu pada pasir lembab dengan seratserat daun yang berasal dari pepohonan pantai.
tak ada ombak yang menghapus nya. Ombak hanya menerjangnya, dan berharap menjaganya untuk di tundukan pada keabadian. Nyawa nyawa kematian pun melenyapkan kesendirianku.
Karena kamu berlari mendekat diri, membawa cahaya api yang terbungkus air hujan. dan menghangatkanku pada keyakinan. Aku pun menyelimutinya dengan keikhlasanku yang berjalan di sampingmu.
Tuhan Allah dengan kuasamu, jatuhkan penjaga-penjaga surga dunia mu untuk kami. Dan peri kecil yang kau datangkan menyejukan kami dengan sahabat kebahagiaan.
Diam untuk menjawab keraguan, karna keraguan tak pantas selalu bertamu dalam hati yang tersirat. Tak usah menjawab untuk pertanyaan para penghuni ragu. Dan berteriaklah untuk keyakinanmu agar daun daun, udara segar, bintang kecil dapat menghantarkannya kebanyak dunia.
Dini Afiani Iskandar
tak ada ombak yang menghapus nya. Ombak hanya menerjangnya, dan berharap menjaganya untuk di tundukan pada keabadian. Nyawa nyawa kematian pun melenyapkan kesendirianku.
Karena kamu berlari mendekat diri, membawa cahaya api yang terbungkus air hujan. dan menghangatkanku pada keyakinan. Aku pun menyelimutinya dengan keikhlasanku yang berjalan di sampingmu.
Tuhan Allah dengan kuasamu, jatuhkan penjaga-penjaga surga dunia mu untuk kami. Dan peri kecil yang kau datangkan menyejukan kami dengan sahabat kebahagiaan.
Diam untuk menjawab keraguan, karna keraguan tak pantas selalu bertamu dalam hati yang tersirat. Tak usah menjawab untuk pertanyaan para penghuni ragu. Dan berteriaklah untuk keyakinanmu agar daun daun, udara segar, bintang kecil dapat menghantarkannya kebanyak dunia.
Dini Afiani Iskandar
Sebuah Sesal
Kesederhanaanku berubah menjadi taring-taring yang menyentuh lembut jiwa sampai akhirnya melukai jiwa yang dianugrahi kasih. Kesederhanaanku diikuti dengan kebimbangan tanpa setitik petunjuk akan langkah apa yang kan dijalani. Satu angan dalam hati tergoyahkan karna takada satu gengaman yang kuat didalamnya.
Wahai para kasih yang dianugrahi, beri satu waktu untuk mencari genggaman yang kuat dalam ombak yang tak menepi. Aku pun kasih yang dianugrahi terus berlari melawan angin yang akan membawa satu kebahagiaan dalam hitungan nafas yang terhempas.
Dini Afiani Iskandar
Wahai para kasih yang dianugrahi, beri satu waktu untuk mencari genggaman yang kuat dalam ombak yang tak menepi. Aku pun kasih yang dianugrahi terus berlari melawan angin yang akan membawa satu kebahagiaan dalam hitungan nafas yang terhempas.
Dini Afiani Iskandar
Jangan Beserta Aku
Jangann...
Serahkan malam pada siang.
Serahkan siang pada malam.
Aku semakin tak mengenal diriku.
Aku semakin tak mengerti mauku.
Aku saat ini membuang lembaran pikiranku yang tertulis.
Aku saat ini memasung semua khayalku yang terkotakan retakan kaca.
Aku saat ini mengembunkan kalimatku yang menjadi tetesan air yang tak berarti.
Aku saat ini mencabik hatiku dan terluka tanpa ada setetes darah...
Udara bersahabat dengan waktu menghantarkan auranya yang masuk melalui poripori tulang dan memberikan sedikit benihbenih yang dapatku jadikan kekuatan untuk menakhlukan makhluk bumi tuhan...
Yang paling kuasa, jadikan unsur unsur kasih untuk makhluk bumimu sebagai penghias indah untuk satu alur cerita kehidupan. Jadikan segalanya ikut mencibir kebahagiaan yang tertuju pada lafaz-lafazku yang bersenandung...
Serahkan malam pada siang.
Serahkan siang pada malam.
Aku semakin tak mengenal diriku.
Aku semakin tak mengerti mauku.
Aku saat ini membuang lembaran pikiranku yang tertulis.
Aku saat ini memasung semua khayalku yang terkotakan retakan kaca.
Aku saat ini mengembunkan kalimatku yang menjadi tetesan air yang tak berarti.
Aku saat ini mencabik hatiku dan terluka tanpa ada setetes darah...
Udara bersahabat dengan waktu menghantarkan auranya yang masuk melalui poripori tulang dan memberikan sedikit benihbenih yang dapatku jadikan kekuatan untuk menakhlukan makhluk bumi tuhan...
Yang paling kuasa, jadikan unsur unsur kasih untuk makhluk bumimu sebagai penghias indah untuk satu alur cerita kehidupan. Jadikan segalanya ikut mencibir kebahagiaan yang tertuju pada lafaz-lafazku yang bersenandung...
Aku dan Ku
Mengapa tak ada kata tepat yang membuai hatiku? Bibir pun tak dapat bersentuhan, aku ucap ini namun terucap itu. Diamlah! Berhenti berteriak-teriak halus di indraku, semakin jauh suara itu bersahabat dengan waktuku menerkam detik detak hari. Lihat! Berlayar ke arah manakah musuhmusuh ketenangan hati?
Aku bertanya padaku " Apa yang hangat di pikiranmu?" jawabku untuk pertanyaan aku, "ketidakpastian akan perasaan hatiku".
Aku berkata padaku "wahai kekasih tuhan yang lemah tanpanya bersabarlah, lemahkanlah hatimu dari keputusasaan" jawabku untuk pertanyaan aku "mengenai hal yang agung yang tunduk pada agungnya tuhan"
aku bertanya padaku " apa?" jawabku pada aku " sosok sinar perapian yang mencairkan dingin dinding kasihmu" aku berkata padaku " sosok itu meraihnya dan memenangkannya , ia mengempurkan semua ketakutanku akan kasih"
pastikan kekasih tuhan yang lemah tanpa kekuatannya, apa yang dirasa? Tetesan air yang mengalirkah? Ato kemungkinan sejati yang akan terlahir wahai kasih ?
Berceritalah pada detik detak di hariku, karna mereka membenci sang pengetuk pintu kegelisahan ketika mencoba tuk bersahabat dengan mereka.
Dini Afinai Iskandar
Aku bertanya padaku " Apa yang hangat di pikiranmu?" jawabku untuk pertanyaan aku, "ketidakpastian akan perasaan hatiku".
Aku berkata padaku "wahai kekasih tuhan yang lemah tanpanya bersabarlah, lemahkanlah hatimu dari keputusasaan" jawabku untuk pertanyaan aku "mengenai hal yang agung yang tunduk pada agungnya tuhan"
aku bertanya padaku " apa?" jawabku pada aku " sosok sinar perapian yang mencairkan dingin dinding kasihmu" aku berkata padaku " sosok itu meraihnya dan memenangkannya , ia mengempurkan semua ketakutanku akan kasih"
pastikan kekasih tuhan yang lemah tanpa kekuatannya, apa yang dirasa? Tetesan air yang mengalirkah? Ato kemungkinan sejati yang akan terlahir wahai kasih ?
Berceritalah pada detik detak di hariku, karna mereka membenci sang pengetuk pintu kegelisahan ketika mencoba tuk bersahabat dengan mereka.
Dini Afinai Iskandar
Tak Perlu Judul
Berpangku dalam ribuan butir pasir. Saat ini malam tanpa cahaya yang menemani hanya bintang yang terbentuk.
Angin memainkan hembusannya. Ombak pun memainkan desahannya. Lalu bersama kamu mengetarkan hati di depan perapian mendekap jiwa.
Genggaman atau sentuhankah yang membekukan ke dua bibir kita sampai kata tak berucap? Lalu, bersama kamu bagaimana mengusir kerinduan? Dengan cinta apa dosakah yang akan memasung ke dua hembusan nafas?
Kekasih marilah malam ini mainkan cinta di depan perapian diiringi oleh angin serta hembusanya dan ombak serta desahanya sampai kerinduan ini lenyap.
Dini Afiani Iskandar
Angin memainkan hembusannya. Ombak pun memainkan desahannya. Lalu bersama kamu mengetarkan hati di depan perapian mendekap jiwa.
Genggaman atau sentuhankah yang membekukan ke dua bibir kita sampai kata tak berucap? Lalu, bersama kamu bagaimana mengusir kerinduan? Dengan cinta apa dosakah yang akan memasung ke dua hembusan nafas?
Kekasih marilah malam ini mainkan cinta di depan perapian diiringi oleh angin serta hembusanya dan ombak serta desahanya sampai kerinduan ini lenyap.
Dini Afiani Iskandar
Bunga Edelwis
Ini bukan kecantikan yang tertampak dari bunga-bunga dunia. Namun keindahan jalan kehidupan.
Bunga edelwis tanpa keindahan yang terlihat mata. Namun, genggamlah kau tersenyum melihat keindahannya. Bunga edelwis hanya indah untuk orang yang memilikinya, dilain itu tidak. Karena edelwis sebuah kesederhanaan yang mengungkap dimana kebahagiaan itu sendiri dengan sejuta senyuman.
Dini Afiani Iskandar
Bunga edelwis tanpa keindahan yang terlihat mata. Namun, genggamlah kau tersenyum melihat keindahannya. Bunga edelwis hanya indah untuk orang yang memilikinya, dilain itu tidak. Karena edelwis sebuah kesederhanaan yang mengungkap dimana kebahagiaan itu sendiri dengan sejuta senyuman.
Dini Afiani Iskandar
Kisah Kita
Ketika aku menangis dan bunga-bunga tertawa, sang dewa pun datang menghampiri. Dia datang dengan mengikat pelangi dunia. Mengindahkan isi bumi yang ku anggap hanya asap-asap para pembual.
Dan terjelmalah sang dewa menjadi penyair yang suatu hari aku menguasai hati ini. Karena kian lama kerajaan hati tak berpenguasa.
Penyair kau desahkan lafaz-lafaz yang mendiamkan ku tanpa kata. Karena ku memiliki rasa yang sama. Dan akhrnya kamu menjadi pemeran utama dalam khdpanku.
Kasih, sentuh dan mendekatlah bahwa aku di sini di depan perapian. Musim dingin menyelimuti dengan malam, aku butuh kau .
Melangkahlah kehadapanku, dengar hatiku, tersenyumlah karena segenap rindu yang memuncak hadir bersama.
Dan terjelmalah sang dewa menjadi penyair yang suatu hari aku menguasai hati ini. Karena kian lama kerajaan hati tak berpenguasa.
Penyair kau desahkan lafaz-lafaz yang mendiamkan ku tanpa kata. Karena ku memiliki rasa yang sama. Dan akhrnya kamu menjadi pemeran utama dalam khdpanku.
Kasih, sentuh dan mendekatlah bahwa aku di sini di depan perapian. Musim dingin menyelimuti dengan malam, aku butuh kau .
Melangkahlah kehadapanku, dengar hatiku, tersenyumlah karena segenap rindu yang memuncak hadir bersama.
Untuknya
Jutaan jiwa, biarkan aku terdiam
Jutaan jiwa, biarkan aku kecewa
Puaskanlah sosok itu melukaiku...
Jutaan jiwa, biarkan aku terluka
Jutaan jiwa, biarkan aku menangis
Puaskanlah sosok itu bahagia di kehidupanku...
Aku mengilhami keinginanmu dengan tangis yang kau tinggalkan
Aku mengilhami keinginanmu dengan ribuan helai kelopak yang diam ketika ku ajak berbicara
Datang kehadapanku kau ketuk ribuan gerbang yang kau pilih
Pergi menjauh kau hilang tanpa sedikit sinar yang dapat dijadikan kekuatanku
Inginku..
Kau bertanya, "Apa yang ada dan selalu menguasai kehidupanmu?"
inginku..
Menjawab, "Semua yang mendasarimu"
Andai..
Kau bertanya, "Apa makna di dalamnya?"
Andai...
Kulengkapi "Yaitu seni indah yang tuhan berikan dalam bentuk kesempurnaanmu, detik yang kau ajak berlari mendampingi tingkahmu dan, kejujuran yang mendasari sikap dan hatimu"
hhmm.. Sadarkan aku...
Semua ini hanya egoku untuk biarkanmu hidup dengan sosok tanpa keindahan
semua ini hanya egoku untuk biarkanmu hidup dengan sosok kesederhanaan
Tuhan...
Turunkan hujan lebat yang dapat menyadarkan aku, serta memberikanku kekuatan atas liku yang kau ciptakan...
Redahkan egoku dengan kenyataan yang ada bahwa kemunafikanku biarkan dia bahagia tanpa diriku...
Jutaan jiwa, biarkan aku kecewa
Puaskanlah sosok itu melukaiku...
Jutaan jiwa, biarkan aku terluka
Jutaan jiwa, biarkan aku menangis
Puaskanlah sosok itu bahagia di kehidupanku...
Aku mengilhami keinginanmu dengan tangis yang kau tinggalkan
Aku mengilhami keinginanmu dengan ribuan helai kelopak yang diam ketika ku ajak berbicara
Datang kehadapanku kau ketuk ribuan gerbang yang kau pilih
Pergi menjauh kau hilang tanpa sedikit sinar yang dapat dijadikan kekuatanku
Inginku..
Kau bertanya, "Apa yang ada dan selalu menguasai kehidupanmu?"
inginku..
Menjawab, "Semua yang mendasarimu"
Andai..
Kau bertanya, "Apa makna di dalamnya?"
Andai...
Kulengkapi "Yaitu seni indah yang tuhan berikan dalam bentuk kesempurnaanmu, detik yang kau ajak berlari mendampingi tingkahmu dan, kejujuran yang mendasari sikap dan hatimu"
hhmm.. Sadarkan aku...
Semua ini hanya egoku untuk biarkanmu hidup dengan sosok tanpa keindahan
semua ini hanya egoku untuk biarkanmu hidup dengan sosok kesederhanaan
Tuhan...
Turunkan hujan lebat yang dapat menyadarkan aku, serta memberikanku kekuatan atas liku yang kau ciptakan...
Redahkan egoku dengan kenyataan yang ada bahwa kemunafikanku biarkan dia bahagia tanpa diriku...
Tanpa Kekuatan
Aku perempuan tanpa kekuatan, aku begitu lemah untuk melangkahkan kaki ku, mewujudkan semua anganku, membaringkan semua amarahku. Dan saat ini pun ketika seseorang membangunkan aku dalam mimpi burukku. Dan saat ini pun ketika seseorang mengeringkan luka hatiku. Dan jauh saat ini pun ketika pandanganku kepada pria, pria adalah seorang pencabut nyawa, di rubahnyalah semua pikirku tentang semua itu.
Namun dia lengkapi lemahku dengan hadirnya dia yang merubah satu kehidupanku yang menjulang menjelma menjadi butir kekuatan dalam diriku merasuk dalam hati dan jiwa
Dini Afiani Iskandar
Namun dia lengkapi lemahku dengan hadirnya dia yang merubah satu kehidupanku yang menjulang menjelma menjadi butir kekuatan dalam diriku merasuk dalam hati dan jiwa
Dini Afiani Iskandar
Tuhan apa yang terjadi? Mengetarkan gerak langkah dalam pikirku? Dihadapanku pun sosok itu merusuk dengan membawa hawa dingin api kerinduan. Dingin menyelimuti setiap pelosok hati dengan seribu tanya diam.
Dan Tuhan, maafkan saat tangannya menggenggam tanganku. Milik kekasih hati ini tuhanku. Aku tanpa gerak menyerupai gadis, gadis berkelut kemunafikan. Sejarah-sejarah masa lalu hanya menghantarkan keegoisan dan kemunafikan kedalam dirinya. aku menutup hatiku agar tak ada seorang pun datang mengetuk melukaiku. Namun, saat ini goresan menyertai dan berada didepan, mengetuk pintu yang tertutup.
Dan maafkan Tuhan, saat peluknya menyatukan pelukku tak ada dayaku melepasnya. Dia berbisik saat menyentuh hati bahwa dia takkan melepas genggaman dan pelukku. Namunku tak percaya itu.
Dan maafkan Tuhan, saat kedua jiwa menyatu, tak ada sau kata yang terhempas. Saling menghirup nafas jiwa. Aku benar tak berkata, bisu ketika bisuku terpasung oleh sentuhan jiwa ini.
Kekasih hati ini ku percayakan satu anak kehidupan atas penyatuan kedua jiwa. Bila akhirnya kau tak memikirkannnya biarkan semua ini hidup dengan keikhlasan yang melemahkan pada rasa sakit dan mengurangi luka.
Kusadar ku takkan pernah menjadi yang pantas karna tak ada satu keindahan. Hanya ada hangatnya keikhlasan untuk mendekapmu.
Dan Tuhan, maafkan saat tangannya menggenggam tanganku. Milik kekasih hati ini tuhanku. Aku tanpa gerak menyerupai gadis, gadis berkelut kemunafikan. Sejarah-sejarah masa lalu hanya menghantarkan keegoisan dan kemunafikan kedalam dirinya. aku menutup hatiku agar tak ada seorang pun datang mengetuk melukaiku. Namun, saat ini goresan menyertai dan berada didepan, mengetuk pintu yang tertutup.
Dan maafkan Tuhan, saat peluknya menyatukan pelukku tak ada dayaku melepasnya. Dia berbisik saat menyentuh hati bahwa dia takkan melepas genggaman dan pelukku. Namunku tak percaya itu.
Dan maafkan Tuhan, saat kedua jiwa menyatu, tak ada sau kata yang terhempas. Saling menghirup nafas jiwa. Aku benar tak berkata, bisu ketika bisuku terpasung oleh sentuhan jiwa ini.
Kekasih hati ini ku percayakan satu anak kehidupan atas penyatuan kedua jiwa. Bila akhirnya kau tak memikirkannnya biarkan semua ini hidup dengan keikhlasan yang melemahkan pada rasa sakit dan mengurangi luka.
Kusadar ku takkan pernah menjadi yang pantas karna tak ada satu keindahan. Hanya ada hangatnya keikhlasan untuk mendekapmu.
Aku Tak Mempunyai Keindahan
Aku bukan hal yang indah menghampirimu. Aku pun takkan bisa menjadi mawar putih yang indah membalut hidupmu. Mungkin egoku membiarkan sebuah keadaan ini berjalan tetap seperti semua inginku namun yang tak dimiliki olehmu. Aku memang bukan mawar putih, melainkan edelwis yang hanya beberapa orang memilikinya. Aku hanya menyimpan kesederhanaan, tak ada kecantikan yang indah di dalamnya. Hanya keikhlasan menerima seseorang yang akan menyentuhnya, dengan luka atau cinta tetap dengan pilihan-pilihan sejiwa edelwis.
Akankah kau mengetahui mengenai kelopak edelwis yang tak terketuk ketika kedatanganmu? Untuk menyentuhku hanya di keluti oleh semua asa ku, karna ku takut terluka. Dan sekarang ketika sudah ada celah yang menanti, sedikit kau gores ini dengan keraguanmu.
Apa jalanmu untuk setangkai edelwis? Bilaku mengetahui yang akan datang dan di bukakan keluasan hati. Mungkin takkan ada tangisan pada setiap tangkai edelwis.
Satu saatku katakan, aku takkan mempunyai keindahan hanya sekedar kesederhanaan dan keikhlasan menampung semua luka dan cinta yang akan terjalin.
Dini Afiani
Akankah kau mengetahui mengenai kelopak edelwis yang tak terketuk ketika kedatanganmu? Untuk menyentuhku hanya di keluti oleh semua asa ku, karna ku takut terluka. Dan sekarang ketika sudah ada celah yang menanti, sedikit kau gores ini dengan keraguanmu.
Apa jalanmu untuk setangkai edelwis? Bilaku mengetahui yang akan datang dan di bukakan keluasan hati. Mungkin takkan ada tangisan pada setiap tangkai edelwis.
Satu saatku katakan, aku takkan mempunyai keindahan hanya sekedar kesederhanaan dan keikhlasan menampung semua luka dan cinta yang akan terjalin.
Dini Afiani
Saat Perkenalan
Tangan yang menyentuh menghantarkan getaranya sampai ke hati dengan sejuta denyut nadi yang ada. Ke empat matapun diam dalam kelahiran angan-angan baru, menghancurkan semua asa. Kedua bibir diam dalam kata yang tak dapat terhempas. Seluruh tubuh tanpa gerak, seakan satu detak jantung menghentikan putaran dunia.
Ini ketakutanku selama ini Tuhan! Yaitu , mengenalnya. Mengapa semua tubuh dan hatiku yang tergerak dalam diam? Sebenarnya apa ini? Aku diperkenalkan namun aku tak pernah mengenalnya. Aku seperti merasakan hal yang pernah ku jalani, ketika ku menjatuhkan hati kepada insan di masa lalu.
Jutaan detik dari saat itu kau selalu hadir dalam fikirku. Apa yang kau rasa?
Isi kekosongan yang tak berpenguasa tanpa penguasa dan tanpa 1 kehidupan di hidupku
Dini Afiani Iskandar
Ini ketakutanku selama ini Tuhan! Yaitu , mengenalnya. Mengapa semua tubuh dan hatiku yang tergerak dalam diam? Sebenarnya apa ini? Aku diperkenalkan namun aku tak pernah mengenalnya. Aku seperti merasakan hal yang pernah ku jalani, ketika ku menjatuhkan hati kepada insan di masa lalu.
Jutaan detik dari saat itu kau selalu hadir dalam fikirku. Apa yang kau rasa?
Isi kekosongan yang tak berpenguasa tanpa penguasa dan tanpa 1 kehidupan di hidupku
Dini Afiani Iskandar
Perempuan dan Masa Lalu
Perempuan menyatu oada mimpi dalam tidurnya. Dan ia pun terkejut bersama kisahnya karna masa lalu yang ia telah lupakan dan meninggalkannya menepi di hadapannya. Perempuan itu pun tidak tahu apakah itu adalah sebuah kenyataan dalam mimpi ataukah hanya drama yang dimainkan di dunia mimpinya?Tapi yang pasti, kisah itu tergambar akan masamasa pada masalalu. Mengulang kembali sesuatu yang indah namun memberikan perempuan itu sebuah luka. Wahai keinginan si perempuan, jagalah perempuan itu agar ia tak lagi disakiti oleh masalalu serta mereka lainya yang ingin menyakiti.
Dini Afiani
Dini Afiani
Perempuan dan Keinginannya
Perempuan yang memiliki keinginan. Namun keinginan berada jauh darinya. Mengharapkan keinginan itu akan datang dan membayangi kehidupannya. Butuh waktu lama untuk terwujudnya itu semua. Dan terkadang apa yang dingikan oleh perempuan itu meletakan emosi di tepi yang akan di terjang ombak dan mengajak untuk memainkan emosi serta menyentuh goresan luka kecil.
Tak ada yang perempuan dapat lakukan kecuali penantian serta keikhlasan agar keinginan si perempuan itu iklas jua untuk membayanginya.
Dini Afiani
Tak ada yang perempuan dapat lakukan kecuali penantian serta keikhlasan agar keinginan si perempuan itu iklas jua untuk membayanginya.
Dini Afiani
Subscribe to:
Comments (Atom)