Aku baru hanya mengambil pagi. Rekat-rekat menjemari di hati. Aku menyentuh horizon langit membuai asa yang mengasap, terbungkus oleh luas keindahan. tapi diam ! aku tak mengenal sosoknya.
Aku hanya menyapa permukaan dan merebahkan telapak tangan untuk memulai langkah. Malam menyirat cahaya pagi untuk sosok pertama di mataku. Kata-kata lapar akan kepercayaan, hanya teriakan dan cacian dari rakyat terkasih untuk menjabatku dari jatuh. Untuk ini aku takkan mencari kekasih sahabat, aku diam menghirup sapaan hangat pagi di permukaan.
Aku ingin kamu dan aku jadi pagi mengikat malamnya dari permukaan hingga dasar dan membuka ikatan yang ku kunci dari hausnya air mata yang menyakiti.
Dini Afiani Iskandar
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment