Mengapa tak ada kata tepat yang membuai hatiku? Bibir pun tak dapat bersentuhan, aku ucap ini namun terucap itu. Diamlah! Berhenti berteriak-teriak halus di indraku, semakin jauh suara itu bersahabat dengan waktuku menerkam detik detak hari. Lihat! Berlayar ke arah manakah musuhmusuh ketenangan hati?
Aku bertanya padaku " Apa yang hangat di pikiranmu?" jawabku untuk pertanyaan aku, "ketidakpastian akan perasaan hatiku".
Aku berkata padaku "wahai kekasih tuhan yang lemah tanpanya bersabarlah, lemahkanlah hatimu dari keputusasaan" jawabku untuk pertanyaan aku "mengenai hal yang agung yang tunduk pada agungnya tuhan"
aku bertanya padaku " apa?" jawabku pada aku " sosok sinar perapian yang mencairkan dingin dinding kasihmu" aku berkata padaku " sosok itu meraihnya dan memenangkannya , ia mengempurkan semua ketakutanku akan kasih"
pastikan kekasih tuhan yang lemah tanpa kekuatannya, apa yang dirasa? Tetesan air yang mengalirkah? Ato kemungkinan sejati yang akan terlahir wahai kasih ?
Berceritalah pada detik detak di hariku, karna mereka membenci sang pengetuk pintu kegelisahan ketika mencoba tuk bersahabat dengan mereka.
Dini Afinai Iskandar
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment